Arsip

Archive for the ‘Budaya’ Category

MAKNA TEMBANG MACAPAT

Oktober 22, 2012 Tinggalkan komentar

TRIWIKRAMA

Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu” atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mula kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman kertayuga, zaman serba adem tenteram dan selamat di dalam alam keabadian. Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari   alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah zaman tirtayuga. Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu ini berproses di dalam zaman dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahya lalu mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia. Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim sang rena dari wujud badan cahya menjadi badan raga.  Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga. Kemudian langkah Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai Madyapada, madya itu tengah padha berarti tempat. Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.

KIDUNG PANGURIPAN
“SAKA GURU”

Nah, di zaman Madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu negatif yang ada di dalam segumpal darah (kalbu).  Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah menggambarkan bagaimana keadaan manusia dalam berproses mengarungi kehidupan  di dunia selangkah demi selangkah yang dirangkum dalam tembang macapat (membaca sipat). Masing-masing tembang menggambarkan proses perkembangan manusia dari sejak lahir hingga mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke dalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui setiap insan. Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia, agar supaya tembang tidak sekedar menjadi iming-iming, namun dapat menjadi pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup manusia. Berikut ini alurnya :

1. MIJIL

Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati. Baca selengkapnya…

Kategori:Budaya

Mencermati Makna Lebaran Ketupat

Juli 16, 2011 Tinggalkan komentar

“Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam, disantap sepulang dari salat Idul Fitri, untuk kakek dan nenek, tetangga, sahabat. Senangnya, subhanallah sungguh nikmat.”

Bait lagu bertajuk Ketupat Lebaran yang dipopulerkan Shafa Natasya Asmarandina (Tasya) tersebut menggambarkan suasana Idul Fitri yang penuh suka cita. Karena sudah menjadi tradisi seusai salat Id, mayoritas kaum muslim biasa berkumpul bersama keluarga dalam acara halal bihalal (maaf memaafkan). Acara maaf-memaafkan biasanya dilakukan dalam lingkup keluarga terdekat terlebih dahulu. Disambung silaturahim ke tetangga di sekitar rumah. Selanjutnya ke sanak saudara berjauhan.

Uniknya, kebanyakan masyarakat Jawa masih mengamalkan tradisi silaturahim dengan tetap menjunjung tata karma. Keluarga yang lebih muda berkunjung ke saudara yang lebih tua.

Menurut tokoh NU, Salahuddin Wahid, tradisi silaturahim dari saudara muda ke yang lebih tua tersebut merupakan cermin dari unggahungguh (sopan-santun). “Sewaktu Gus Dur masih ada, saya pun juga melakukannya setiap Idul Fitri dengan berkunjung ke rumahnya,” kata ulama yang akrab disapa Gus Sholah tersebut. Adapun jamuan khas acara silaturahim biasanya ketupat dengan lauk sayur opor ayam.

Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dikemas dalam anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk prisma maupun segi empat. Jika ditarik mundur, tradisi makan ketupat bersama sanak saudara serta tetangga tersebut dipercaya masyarakat Jawa dikembangkan oleh Sunan Kalijaga, yaitu salah satu Walisanga. Baca selengkapnya…

Kategori:Budaya

Makna Kembar Mayang dalam Ritual Pernikahan Jawa

Maret 14, 2011 Tinggalkan komentar

Harapan Kalis ing Rubeda, Kaling ing Sambekala

Sawusnya kasil dhaup astra lumiyat, kaajab sri panganten sarimbit, nggennya amangun bale wisma ngupaya wastra boga, bisaa sembada kang sinedya, miwah jumbuh kang ginayuh, yayah Sekar Mijil kang gya manangkil: Dipun esthi mrih darbe pribadi kang geleng gumolong, mangun urip jejeging brayate, mring bebrayan bisa murakabi, guna ing sasami, bekti ing Hyang Agung…

DEMIKIAN salah satu bagian dari Sekar Mijil yang berisi wejangan kepada pasangan pengantin. Artinya, kira-kira sebagai berikut: Setelah melaksanakan pernikahan, diharapkan mempelai berdua, dalam membangun rumah tangga, serta mencari nafkah, semoga dapat hidup sejahtera, semua yang direncanakan dapat terwujud, seperti Tembang Mijil yang akan tersaji: Direncakan dengan penuh kesungguhan agar memiliki karakter dalam satu tekad bulat membangun hidup berumah tangga yang sentosa dalam masyarakat agar memberi manfaat dan berguna bagi sesama, berbakti pada Tuhan Yang Maha Agung.

Baca selengkapnya…

Kategori:Budaya