Beranda > Budaya > Mencermati Makna Lebaran Ketupat

Mencermati Makna Lebaran Ketupat

“Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam, disantap sepulang dari salat Idul Fitri, untuk kakek dan nenek, tetangga, sahabat. Senangnya, subhanallah sungguh nikmat.”

Bait lagu bertajuk Ketupat Lebaran yang dipopulerkan Shafa Natasya Asmarandina (Tasya) tersebut menggambarkan suasana Idul Fitri yang penuh suka cita. Karena sudah menjadi tradisi seusai salat Id, mayoritas kaum muslim biasa berkumpul bersama keluarga dalam acara halal bihalal (maaf memaafkan). Acara maaf-memaafkan biasanya dilakukan dalam lingkup keluarga terdekat terlebih dahulu. Disambung silaturahim ke tetangga di sekitar rumah. Selanjutnya ke sanak saudara berjauhan.

Uniknya, kebanyakan masyarakat Jawa masih mengamalkan tradisi silaturahim dengan tetap menjunjung tata karma. Keluarga yang lebih muda berkunjung ke saudara yang lebih tua.

Menurut tokoh NU, Salahuddin Wahid, tradisi silaturahim dari saudara muda ke yang lebih tua tersebut merupakan cermin dari unggahungguh (sopan-santun). “Sewaktu Gus Dur masih ada, saya pun juga melakukannya setiap Idul Fitri dengan berkunjung ke rumahnya,” kata ulama yang akrab disapa Gus Sholah tersebut. Adapun jamuan khas acara silaturahim biasanya ketupat dengan lauk sayur opor ayam.

Ketupat adalah makanan berbahan dasar beras yang dikemas dalam anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk prisma maupun segi empat. Jika ditarik mundur, tradisi makan ketupat bersama sanak saudara serta tetangga tersebut dipercaya masyarakat Jawa dikembangkan oleh Sunan Kalijaga, yaitu salah satu Walisanga.

Sunan Kalijaga memperkenalkan budaya ketupat yang berbarengan dengan momen lebaran, merupakan salah satu misi syiar Islam pada masa lampau. Kendati tidak ada sumber yang akurat tentang siapa yang kali pertama memperkenalkan tradisi makan ketupat pada hari raya Idul Fitri. “Hanya saja, Walisanga zaman dulu mengembangkan tradisi-tradisi yang sudah ada di masyarakat sebagai media menyebarkan ajaran Islam,” kata Gus Sholah.

Gus Sholah menambahkan salah satu ciri Walisanga dalam menyebarkan Islam melalui tradisi yang sudah berkembang di suatu daerah ialah memberikan simbolsimbol. Seperti ketupat berasal dari salah satu kata bahasa Arab, kuff at yang berarti sudah cukup harapan. Tak heran jika ketupat digunakan untuk merayakan kemenangan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dengan berlebaran pada satu syawal.

Adapun lebaran merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa “lebar” yang berarti selesai. Istilah tersebut kemudian dipakai masyarakat dalam menyambut hari raya Idul Fitri seiring selesainya bulan Ramadan. Perayaan Idul Fitri tersebut akan lebih sempurna jika disambung dengan puasa Syawal selama enam hari. Sebab dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh ada kemungkinan cacat. “Pelaksanaan puasa sunah Syawal tersebut dapat menambal kemungkinan adanya cacat ibadah pada Ramadan,” ujar Gus Sholah. Ungkapan Syukur Setelah genap berpuasa enam hari, pada hari ketujuh bulan syawal atau sesudah Ramadan, dirayakanlah lebaran ketupat. Masyarakat Jawa menyebut lebaran ketupat dengan Syawalan. “Perlu diketahui, lebaran ketupat tersebut bukan menjadi bagian rangkaian ibadah puasa Syawal selama enam hari,” kata anggota Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah, Andi Ihsan.

Lebaran ketupat merupakan tradisi masyarakat sebagai ungkapan syukur setelah melaksanakan ibadah puasa. Namun, tujuan dari tradisi makan ketupat bersama keluarga maupun tetangga setelah salat sunah Id diharapkan menjadi momen untuk saling mengakui kesalahan. Setelah itu, melupakan kesalahan dengan saling bermaaf- maafan sembari menyantap ketupat. Tujuan tersebut terselip dari makna ketupat dalam bahasa Jawa, ketupat berarti “ngaku lepat” alias mengakui kesalahan. Tidak hanya itu, makna tersembunyi dari ketupat, bentuk segi empat ternyata wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer” yang berarti empat arah mata angin dan satu pusat.

Prinsip tersebut kalau diotak-atik maknanya berarti empat arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara yang bertumpu di satu pusat. Bila salah satu arah mata angin itu hilang, maka keseimbangan alam goyah. Terjemahan bebas filosofi tersebut bisa dikaitkan dengan arah jalan hidup manusia. Ke mana pun arah yang ingin ditempuh manusia hendaknya tidak akan lepas dari pusatnya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, agar tidak goyah maka manusia harus tetap ingat kepada Sang Khalik sebagai pusat dari segalanya.

Ada pula yang mengartikan prinsip “kiblat papat lima pancer” bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah. Ketupat juga bukan sekadar makanan yang disajikan untuk menjamu para tamu pada hari raya Idul Fitri maupun merayakan genapnya enam hari berpuasa sunah Syawal. Sebagian masyarakat Jawa memaknai rumitnya membuat anyaman ketupat dari janur sebagai bungkus beras, mencerminkan kesalahan manusia. Warna putih ketupat ketika dibelah melambangkan kebersihan setelah bermaaf-maafan. Butiran beras yang dibungkus dalam janur merupakan simbol kebersamaan dan kemakmuran.

Penggunaan janur sebagai kemasan pun memiliki makna tersembunyi. Janur dalam bahasa Arab yang berasal dari kata “jaa a al-nur” bermakna telah datang cahaya. Sedangkan masyarakat Jawa mengartikan janur dengan “sejatine nur” (cahaya). Dalam arti lebih luas berarti keadaan suci manusia setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan Ramadan.

Selain itu, tradisi makan ketupat lebaran yang masih langgeng sampai saat ini adalah penggunaan sayur opor sebagai pasangannya. Sayur opor pun memiliki makna filosofi , jika dilihat dari asal-usul bahan dasarnya yang menggunakan santan kelapa. Bahasa Jawa dari santan ialah “santen” yang memunyai makna “pangapunten” atau memohon maaf.

Menurut Gus Sholah, tradisitradisi semacam ketupat yang bermanfaat untuk syiar Islam perlu dilestarikan. Pasalnya, tradisi ketupat tersebut mengajarkan pentingnya melakukan silaturahim dan saling berbagi antar sesama.

“Oleh sebab itu, tradisi ketupat lebaran sampai saat ini bisa tetap lestari tanpa adanya perintah melestarikan oleh siapa pun,” pungkas Gus Sholah.

Kategori:Budaya
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: