Beranda > Kisah teladan > Suami dan keempat istrinya

Suami dan keempat istrinya

Alkisah, hidup seorang suami yang mempunyai empat orang istri. Suami tersbut mencintai istri-istrinya. Sang suami sangat mencintai istri keempat karena ialah yang paling tercantik diantara keempat istrinya. Sang suami juga mencintai istri ketiganya, karena ia istri yang paling memanjakan suaminya, semua kemauan suaminya itu dituruti. Begitu juga dengan istri kedua, sang suami mencintainya karena ia begitu sabar dan ramah padanya. Tetapi lain halnya dengan istri pertama, sang suami lebih sering lupa padanya, padahal ia selalu setia mengikuti kemanapun suaminya pergi.

Akhirnya tibalah saat-saat sang suami menjelang memghembuskan nafas terakhirnya. Ia berkata pada istri keempat “Istriku, kaulah yang paling kucintai, sekarang aku akan mati, maukah kau menemaniku?” . Jawab istri keempat “Tentu saja tidak bisa, aku akan berpisah denganmu tuk selama-lamanya”. Sang suami kecewa, lalu berkata ia pada istri ketiga “Istriku, kau selalu menuruti kemauanku, sekarang maukah kau menemaniku menghadap Sang Khalik?”. Jawab istri ketiga “Tidak bisa, aku akan menikah dengan orang lain, aku akan menjadi milik orang lain”. Sang suami kembli kecewa, sekarang ia berharap pada istri kedua “Istriku, kau begitu baik dan sabar padaku, maukah kau menemaniku?. Jawab istri kedua “Tidak bisa, tapi aku akan merawat makammu, mengingatmu selalu dan menjaga nama baikmu kelak”. Sang suami kecewa, tinggalah istri pertama yang sering ia lupakan, “Istriku, aku sering melupakanmu padahal engkau selalu mengiringiku, maukah kau menemaniku?. Jawab istri pertama “Aku mau menemanimu, aku selalu setia disampingmu” .Sang suami terkejut, ia merasa menyesal mengapa di waktu hidup ia sering melupakan istri pertamanya itu, yang ternyata dapat menemaninya hingga akhirat

Dari cerita ini yang dimaksudkan istri keempat adalah jasmani kita,ia akan membusuk begitu kita mati. Istri ketiga adalah harta , pangkat dan kekayaan, ia akan pergi bahkan menjadi milik orang lain begitu kita mati. Istri kedua adalah keluarga, kerabat dan teman. Sedangkan istri pertama adalah amal perbuatan kita yang akan kita bawa sampai akhirat. Seringkali manusia melupakan amal perbuatannya, lebih mementingkan kebutuhan duniawinya. Padahal harta-harta serta kekayaan duniawi kita tidak akan membantu kita di akhirat, malah semakin banyak harta semakin berat mempertanggungjawabkannya.

Semoga dengan kisah ini dapat memperbaiki amal perbuatan kita serta mempertebal keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT .

(Disadur dan diedit seperlunya dari SC Magazine)
sumber:http://hamkanen.wordpress.com/category/nuansa-religius/

Kategori:Kisah teladan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: